Bandara El Tari itu kecil, ramah, hanya ada 1 conveyor belt yang berfungsi dan berbau liburan. 2 jam 50 menit adalah waktu yang ditempuh sebelum pesawat kami mendarat. Penerbangan yang melayani rute Jakarta-Kupang adalah Batavia, Garuda dan Lion Air. Panas yang terik dan tanah yang gersang menyapa kami pagi itu tapi tak ada satu hal pun yang dapat membuat kami mengeluh, ini waktunya, waktu liburan!
Taksi menuju kota Kupang dari Bandara El Tari mengenakan tarif tetap yaitu Rp. 60.000 yang diatur dengan tertib oleh koperasi bandara. Tujuan kami adalah Lavalon homestay di dekat pantai Tode. Dengan Rp. 55.000 saja kami mendapatkan kamar double, fan, shared bathroom yang cukup bersih. Homestay ini nyaman seperti rumah dan sangat informatif, namun tampaknya masa2 kejayaannya telah berakhir sejak penerbangan Darwin-Kupang ditutup beberapa tahun yang lalu. Hanya kamilah tamu di homestay tersebut pada hari itu. Kupang saat ini memang hanya sekedar menjadi tempat transit bagi para wisatawan untuk ke tempat selanjutnya seperti Pulau Rote yang merupakan pulau paling selatan Indonesia yang terkenal bagi para surfer di seluruh dunia atau Alor, surga para penyelam, yang merupakan tujuan utama kami. Tetapi jika dijelajahi, kota ini menyimpan begitu banyak pesona. Awalnya hari itu kami berencana untuk tidak melakukan apa- apa namun, setelah melihat begitu banyak informasi tempat wisata yang bisa dikunjungi kami langsung berubah pikiran.
Guide lokal kami bernama Pak Yance, pria asal Maluku yang menikah dengan wanita setempat. Beliau membawa kami ke tujuan pertama yaitu Crystal Cave. Tidak seperti tempat wisata pada umumnya, tempat ini sepi, tidak ada penunjuk jalan dan tidak ada loket, yiha! Tampaknya pemerintah setempat tidak mengelola tempat ini dan entah mengapa saya senang dengan keadaannya yang apa adanya, alami, hanya berada disana. Untuk mencapai gua ini kita harus berjalan melewati sabana yang dipenuhi semak2 rumput kecokelatan, ciri khas vegetasi Nusa Tenggara Timur. 5 menit berselang kami masih belum melihat adanya gua sampai akhirnya guide kami menunjuk “itu guanya!” yang kami lihat hanya gundukan batu, tapi tidak ada mulut gua yang menganga di depan mata, sama sekali tidak ada tanda2 adanya gua. Rupanya guanya menurun, dari mulut gua kami harus berjalan turun melalui batu-batu yang cukup terjal dan gelap! Untungnya kami sudah sedia headlamp. Guanya tidak dalam, tidak terlalu besar tapi menakjubkan! Perlahan-lahan kami melihat ada pantulan air berwarna biru. Pada awalnya saya pikir itu hanya pantulan cahaya tapi ketika sampai di dasar saya baru percaya kalau itu air. Astaga saking jernihnya air itu saya sampai tidak percaya! Menurut Pak Yance, waktu yang terbaik untuk mengunjungi gua ini adalah pada saat siang hari ketika cahaya masuk melalui mulut gua. Masih terpana dengan kecantikan gua tersebut, beberapa teman saya mulai melepaskan pakaian mereka dan berenang. Berenang di dalam gua? Kapan lagi?

Crystal cave
Perhentian kedua adalah air terjun Oenesu, air terjun 3 tingkat dengan pemandangan hutan hujan tropis yang lebat dan subur. Suara deburan air yang terus menderu, cipratan air yang sejuk membuat kami asyik bermain air disini. Air terjun ini pun menjadi lokasi untuk uji nyali, kolam yang lumayan dalam dibawahnya membuat kami dapat lompat dari tangga ke-2, yang tingginya kira-kira sekitar 15 meter, lompat? Tidak? Lompat? Tidak? LOMPAT!! Byurrr
Tujuan terakhir adalah pantai Tablolong, pantai pasir putih yang luas dengan ombak tenang yang bagi orang Kupang sering dijadikan sebagai lokasi untuk memancing. Disini kami bersantai duduk di pinggir pantai sambil menunggu matahari terbenam.
Kami menutup malam itu dengan makan seafood di pasar malam dekat kami menginap. Pasar malam ini merupakan tempat kuliner bagi warga Kupang, satu jalan penuh dengan gerobak-gerobak makanan mulai dari pecel ayam, bakso, soto, sate dan menu andalan yang paling dicari-cari, seafood! Yumm.. Sebuah penutup yang manis untuk malam pertama dan terakhir kami di Kupang.
Keesokan paginya kami bergegas menuju bandara El Tari untuk menuju Alor, salah satu surga bawah laut yang namanya kalah pamor dengan Raja Ampat atau Komodo. Operator penerbangan yang melayani rute Kupang-Alor adalah Merpati dan TransNusa dengan tarif sekitar Rp 500.000. Penerbangan ke Alor kami tempuh dalam waktu 45 menit. Karena memakai pesawat baling-baling yang terbang tidak terlalu tinggi, saya bisa melihat gugusan pulau-pulau dibawah yang semuanya dikelilingi oleh pasir putih dan laut hijau toska. Rasanya sudah sangat ingin nyemplung ke laut!!
Jika El Tari adalah bandara sederhana, bandara Mali di Alor adalah BSS, bandara sangat sederhana. Bandar Udara ini hanya melayani penerbangan Kupang – Alor – Kupang sehari 2 kali. Ketika pesawat mendarat banyak orang yang menunggu di balik pagar besi rendah yang mengelilingi bandara, mereka adalah penjemput atau yang kemudian saya tau adalah supir taksi yang mencoba mencari penumpang. Karena tidak ada conveyor belt, bagasi kami dikeluarkan satu persatu secara manual.
Tujuan kami adalah menuju ke Alor Kecil untuk menyebrang ke Pulau Kepa. Di bandara kami berhasil mendapatkan taksi dengan tarif Rp. 150 ribu untuk 4 orang. Tidak banyak yang bisa dilihat dalam 1 jam perjalanan dari bandara Mali menuju Alor Kecil. Alor kecil adalah sebuah desa di pinggir laut dan pulau kepa berada di muka desa tersebut. Disana, kami bertemu dengan Pak Mukshin, bapak yang akan mengantar kami ke penginapan di Pulau Kepa, yaitu La petite kepa. Dengan ketinting beliau bolak-balik menjemput tamunya tiap hari, maklumlah ketinting hanya cukup untuk 2 orang.

pulau kepa
Tiba di Pulau Kepa kami disuguhi pantai pasir putih dengan air laut yang luar biasa jernih dan dikejauhan tampak padang rumput kecoklatan yang mengering. Kami harus berjalan 200 meter sebelum menemukan tempat kami menginap. Komplek penginapan kami dikelilingi pagar kayu, bungalow2 disini memakai arsitektur rumah adat alor, atap jerami, dinding dari bambu, hammock di beranda dan semuanya sempurna!

La petit kepa
Penginapan yang kami tinggali adalah milik pasangan suami istri warga negara Perancis yang jatuh cinta dengan Alor, 15 tahun yang lalu mereka membangun La Petite Kepa dan tinggal di sana sampai sekarang bersama dengan 2 orang putrinya. Konsep penginapan ini adalah eco resort, sebagian listrik yang digunakan menggunakan tenaga matahari dan pemakaian air disini dibatasi hanya 1 ember besar untuk air tawar dan 1 ember besar air asin masing-masing untuk 1 hari/kamar. Tarif yang mereka kenakan mulai dari Rp. 150.000/kepala sudah termasuk 3 kali makan.
Hari pertama di pulau kepa kami habiskan dengan bermalas-malasan di hammock sambil menikmati suasana sekitar. Sorenya kami berjalan di sekitar pulau dan menemukan pantai kosong di belakang penginapan yang pasirnya berwarna pink, memang tak seperti pink beach di pulau rinca tetapi kami bisa melihat butiran2 pink pada pasirnya yang halus.
Keesokan harinya kami berharap untuk dapat menyelam, tetapi karena hari itu berjatuhan dengan hari raya Idul Fitri maka awak kapal mereka mendapat hari libur sehingga tidak ada yang bisa mengantar tamu untuk diving. Batalah rencana menyelam hari itu. Sisa hari itu kami isi dengan bercengkrama dengan para tamu lainnya yang semuanya bule, ya kami merasa asing di negeri sendiri. Tetapi yang membuat saya bangga adalah betapa mereka sangat mencintai Indonesia, hampir semua tamu bule ini bisa berbahasa Indonesia dengan baik, mereka sangat menyukai makanan Indonesia termasuk sambal dan mereka cinta keindahan laut Indonesia. Mereka berulang-ulang kali bilang betapa beruntungnya kami bisa tinggal di negara yang Indah.
Sore harinya kami pergi untuk snorkeling di sekitaran penginapan, Alor terkenal dengan arusnya yang agak kencang jadi kami harus berhati2 ketika snorkeling/menyelam disana. Belum 5 menit kami bersnorkeling ria, sepasang tamu bule memanggil kami untuk menghampirinya sambil memberi kode hiu dengan isyarat tangan. Tentu saja kami berenang secepat mungkin ke tempat mereka dan disanalah 2 meter dihadapan kami terdapat 6 black tip shark sedang berenang-renang menghabiskan sore. Sambil berpegang erat pada koral di peraitan yang dangkal kami dengan tenang mengamati mereka setengah tidak percaya. Setelah gerombolan hiu itu mulai pergi, kamipun kembali ke penginapan dengan girang. Makan malam kami malam itu sangat lezat, semuanya buatan bibi yang bekerja di penginapan. Setelah perut kenyang dan lelah berbincang-bincang dengan tamu lainnya kami balik ke kamar kami masing-masing saat itu saya melihat berjuta-juta bintang di langit malam. Ya Tuhan, jika ini surga saya percaya.




Pagi-pagi sekali, kami bersama tamu-tamu yang lain sudah siap tempur untuk menyelami lautan Alor. 2 kali penyelaman kami lakukan siang itu dengan pemandangan wall yang kaya “isi” mulai dari nudi branch, flat worm, clown fish, berbagai macam udang dan kepiting. Malamnya kami melakukan night dive, ini merupakan penyelaman malam saya yang pertama, perasaan saya campur aduk antara takut, gugup dan bersemangat. Setelah senter dan semua peralatan menyelam kami siap kami melompat dari atas kapal, brrr airnya dingin sekali, 20 derajat dan saya hanya memakai wetsuit 3 mm! Tapi rasa dingin itu terkalahkan dengan keinginan kuat saya untuk menjelajah lautan malam Alor. 5 meter, 15 meter dan 22 meter, sensasi yang luar biasa. Ketika saya tutup senter saya di atas dada, kegelapan menyapa dan terlihatlah bio-luminescence, plankton yang mengeluarkan cahaya, mengikuti gerakan tangan saya mereka tampak seperti kunang-kunang di bawah laut, begitu indah. Kami juga bertemu dengan Spanish Dancer berwarna merah yang menari-nari bak penari spanyol dengan roknya yg lebar, cantik sekali. Ketika tangki saya mulai kosong perlahan-lahan saya naik ke atas permukaan, saya tidak lagi kedinginan dan anehnya merasa hangat, saya matikan senter saya, dan saya melihat bio-luminescence berkelap kelip mengikuti gerakan saya yang berenang menuju kapal, pada saat itu saya mendongak ke atas langit dan tampaklah bulan sabit, bulan baru telah tiba.
Seperti biasa, pukul 06.00 pagi kami bangun, bersiap – siap sarapan ala La Petite Kepa, yaitu hanya makanan ringan, kali ini adalah banana pancake, selesai sarapan kami langsung menuju kapal. Tujuan penyelaman hari ini adalah mama lemon, nama dive site yang awalnya hanya merupakan lelucon dari salah seorang dive master di le petite kepa yang kemudian terbawa sampai sekarang. Pagi itu sangat cerah dan seperti biasa hijau tosca lautan Alor ini terus memukau. Air laut menunjukkan suhu 22 derajat ketika kami menyelam. Di mama lemon, kami bertemu dengan udang transparan dan kepiting unik yang “berbulu” lebat berwarna oranye seperti orang utan. Penyelaman kedua adalah Papa Rahe, disini kami melakukan drift dive, menyelam dengan mengikuti arus yang cukup kencang, wow sungguh pengalaman baru bagi saya dan ternyata seru! Rasanya seperti duduk di kursi yang diputar-putar dengan sebuah televisi dihadapan kita yang menyuguhi pemandangan koral, schooling ikan dan anemone yang begitu luar biasa alaminya. Seusai melewati spot yang berarus, kami menyelam seperti biasa dan saya speechles melihat keindahan Alor ini, koralnya sangat sehat, ratusan ikan kecil berwarna warni lalu lalang di hadapan kami, dan anemonenya rapet! Keren!!! Best dive spot so far.
Puas dengan penyelaman hari itu kamipun kembali ke kapal yang akan membawa kami kembali ke peninapan. Di tengah perjalanan, tiba-tiba salah seorang tamu menunjuk ke arah laut dan kami melihat sirip ikan, awalnya saya kira itu hiu tapi ternyata itu mola-mola! Satu mola-mola berenang ke arah arus dingin dan kapal kami berada cukup dekat dengannya, ikannya besar, pipih dan berbintik-bintik putih kami lihat dari atas kapal. Tak lama kemudian kami melihat mola-mola lagi dan kali ini kapal kami tepat berada diatasnya, pada saat itu juga salah satu tamu dari Swiss dengan nekat melompat dari atas kapal demi melihat si mahluk cantik ini, ia berhasil menjepret sang mola-mola. Setelah itu, seisi kapal bersiap-siap memakai fin dan mask mereka kalau-kalau bertemu mola lagi dannn kami bertemu lagi!! Tamu-tamu mulai berlompatan dari atas kapal tanpa perduli betapa dinginnya air saat itu, yang penting berenang bareng mola!
Sesampainya di penginapan, Bram, salah satu dive master lokal di la petite kepa mengajak kami ke alor kecil untuk menangkap ikan-ikan mati di pantai. Setelah makan siang kami naik ketinting untuk melihat ikan-ikan yang mati di sekitaran pulau kepa dan alor kecil. Ikan-ikan tersebut mati karena air laut terlalu dingin untuk mereka. Air dingin ini berasal dari arus dingin dari Selatan yang bergerak ke Utara yang membuat ikan-ikan ini terjebak dan mati kedinginan. Dan memang ketika kami menyentuh permukaan air dari atas ketinting airnya sangat dingin seperti air es! Pantas saja..

Dari ketinting, kami bisa melihat ratusan orang berkumpul di pantai dan puluhan kapal kayu memenuhi laut di sekitaran untuk menangkap ikan-ikan tersebut. Suasana yang unik sekali seperti ada festival! Sungguh tak terduga. Tak hanya itu, karena arus Selatan ini puluhan ikan lumba-lumba pun muncul di sekitaran arus yang juga menjadi tontonan bagi warga Alor. Bahkan dari jarak hanya beberapa meter dari ketinting kami, seekor lumba-lumba melompat memamerkan atraksinya. Selalu ada kejutan setiap saat di alor.
Hari ini adalah hari terakhir kami di pulau kepa. Paginya kami menyelam satu kali, berpamitan dengan berat hati dengan seisi penginapan dan siangnya Pak Mukshin mengantar kami kembali ke alor kecil. Sampai di alor kecil kami naik bemo bersound system besar khas Kupang menuju Kalabahi. Kalabahi adalah ibukota kabupaten Alor, disini kami menginap 1 malam demi mengejar pesawat keesokan paginya. Tarif hotel di Kalabahi adalah 125 ribu untuk kamar double dengan kamar mandi dalam. Tidak banyak yang dapat dilakukan di Kalabahi malamnya kami makan seafood di dekat pelabuhan. Setelahnya kami duduk-duduk di pinggir laut yang sepi sambil bertukar cerita tentang liburan kami di pulau kepa, yang makin membuat kami tambah berat untuk meninggalkan alor dengan segala kejutannya manisnya, tetapi kami harus pulang, demi liburan lagi, liburan ke alor lagi.

Photo credit : Jeffri Nh
Tags: alor, diving, kupang, nusa tenggara timur